This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

Nasehat Tentang Sholat Berjama'ah




1.      NASEHAT TENTANG SHOLAT BERJAMA’AH

Salah satu sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang seringkali kurang diindahkan oleh umat Islam saat ini adalah shalat berjamaa’ah di masjid. Kurangnya perhatian sebagian umat Islam pada sunanul huda ini telah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Karena bukan hanya sebagaian kalangan awam saja yang meninggalkannya, tapi juga tidak sedikit kalangan khusus—santri, ustadz, dan tokoh agama—yang meninggalkannya. Padahal jika kita simak berbagai hadits rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, akan kita dapati perhatian yang demikian kuat ada ibadah sunnah muakkad ini.
Shalat berjama’ah di masjid amat ditekankan perintahnya oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah,
Ada seorang buta datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang menuntun saya untuk datang ke masjid”; kemudian laki-laki buta itu minta keringanan/dispensasi kepada beliau agar diperkenankan shalat di rumahnya. Nabi pun mengizinkannya; tetapi ketika ia bangkit untuk pulang, beliau  bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengar panggilan untuk shalat (adzan)?”. Laki-laki buta itu menjawab: “Ya (saya mendengar)”. Nabi kemudian bersabda: “(Kalau begitu)Kamu harus datang ke masjid”.
Hadits di atas dengan jelas menginformasikan tentang penekanan perintah shalat berjama’ah, seorang buta sekalipun—bahkan yang tidak memiliki penuntun—tetap harus datang ke masjid jika mendengar seruan adzan.
Selain itu, shalat berjama’ah pun memiliki keutamaan daripada shalat sendirian. Sebuah hadits masyhur muttafaq ‘alaih  menerangkan hal ini,
Dari Ibnu ‘Umar r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat”.
Sungguh sangat  rugi orang yang melewatkan begitu saja keutamaan ini.
Wahai saudaraku, bukankah ini seharusnya yang kita kejar demi meraih keridhoan Allah SWT? Demi membuktikan kecintaan kita pada-Nya? Demi meraih keberkahan bagi kehidupan kita?
Takutlah kepada Allah, karena sifat malas shalat berjama’ah di masjid—khususnya shubuh dan isya—adalah ciri orang munafik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada shalat—berjama’ah—yang dirasakan berat oleh orang munafik, kecuali shalat fajr (shubuh) dan isya. Seandainya mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus merangkak…”
Oleh karena itu marilah kita berupaya sekuat tenaga menghidupkan sunnah shalat berjamaah ini. Agar keislaman kita terpelihara dan terhindar dari kesesatan serta kemunafikan. Sahabat Nabi , Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Siapa saja diantara kalian yang ingin bertemu dengan Allah SWT sebagai muslim maka ia harus benar-benar menjaga shalat-shalat ketika terdengar suara adzan. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi SAW sunanul huda (tuntunan-tuntunan yang penuh petunjuk) dan sesungguhnya shalat jama’ah itu termasuk sunanul huda. Seandainya kalian shalat di rumahmu sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah, niscaya kamu sekalian telah meninggalkan sunnah Nabi, dan seandainya kamu sekalian meninggalkan sunnah Nabi, niscaya kamu tersesat. Sungguh pada masa Nabi tiada seorang pun tertinggal dari shalat berjama’ah kecuali orang munafik yang jelas-jelas munafik. Sehingga terjadi ada seorang (sahabat) dipapah oleh dua orang sehingga ia bias berdiri pada salah satu barisan” (HR. Muslim).
Mari saudaraku, tekadkan dalam hati untuk selalu menjaga shalat berjama’ah di masjid. Ajaklah keluarga dan tetangga-tetangga kita untuk melaksanakannya. Insya Allah dengan sunnah ini umat Islam akan menjadi umat yang solid; terpelihara rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuannya.

Anak Muda Nyalakan Semangatmu




 ANAK MUDA NYALAKAN SEMANGATMU….

Sebut saja namanya Mujahid. Ia adalah seorang aktivis dakwah yang saat ini mengikuti dua kuliah magister di dua kampus yang berbeda, dan bekerja dengan jam kerja 40 jam per pekan. Penghasilannya 1,6 juta per bulan.
Selain kesibukan kuliah dan bekerja, al-Akh Mujahid juga sibuk memegang amanah di dakwah kampus, dakwah sekolah, dan di PKS tingkat Kecamatan di bagian Kaderisasi. Selanjutnya yang luar biasa, al-Akh Mujahid ternyata memiliki amanah 11 (sebelas) halaqah binaan dengan total peserta 99 orang. Binaan remaja setingkat SMA 3 kelompok, setingkat umur mahasiswa 7 kelompok, dan setingkat umur SMP 1 kelompok. Allahu Akbar!
Dengan kesibukannya yang luar biasa tersebut al-Akh Mujahid mengaku tetap bisa diandalkan orang tuanya dalam menjalankan beberapa tugas di rumah.
Karena kesungguhannya dalam melakukan aktivitas tarbiyah, belum lama ini al-Akh Mujahid mendapatkan hadiah satu buah sepeda motor dari Ust. H. Ahmad Heryawan.
Ia menjelaskan alasan mengapa harus dan apa manfaat mengelola banyak kelompok binaan.
Pertama, menurutnya, kebutuhan murabbi amat besar. Ada berapa jumlah kader dakwah di Indonesia? Ada berapa jumlah masyarakat Indonesia? Dengan asumsi kita mengandalkan dakwah model halaqah saja, maka kita butuh banyak murabbi. Kita sangat sering melihat kebutuhan murabbi yang tidak terpenuhi, sampai-sampai terjadi harus digaji untuk mendapatkan murabbi yang siap meluangkan waktunya.
Kedua, kebanyakan orang takut memegang banyak kelompok binaan akan mengganggu amanah yang lain, misalnya kuliah. Menurutnya ia membuktikan sebaliknya. Ketika jumlah halaqah yang dibinanya hanya 1 kelompok, IP (indeks prestasi) nya hanya di bawah 3. Ketika jumlah halaqah yang dibinanya dinaikkan menjadi 5 kelompok, IP-nya meningkat menjadi 3, 25. Dan ketika jumlah halaqah yang dibinanya dinaikkan menjadi 7 kelompok, IP-nya meningkat menjadi 3, 65. Bahkan ia mendapat beasiswa S2  dari kampusnya ketika jumlah halaqah yang dibinanya dinaikkan menjadi 10 kelompok. Hal ini menurut Al-Akh Mujahid menjadi bukti kebenaran janji Allah seperti disebutkan dalam al-Qur’an:
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad: 7)
Ketiga, setiap hari kita punya 16 jam aktif. Berarti sepekan ada 112 jam. Bila 15 jam saja kita isi untuk mengelola 10 kelompok halaqah tentu cukup. Waktu tersebut tidak banyak dibandingkan dengan manfaat dari pahala yang bisa kita dapatkan.
Keempat, setiap selesai mengisi satu halaqah, ia pun seperti terbina oleh materi yang disampaikannya sendiri. Wawasannya seperti dipaksa meluas oleh pertanyaan-pertanyaan para binaan. Ruhiyah juga menjadi lebih terjaga karena hamper tiap hari ia membina halaqah.
Bagaimana cara mendapatkan kelompok halaqah binaan sebanyak itu?
Kalau kita menunggu, menurut al-Akh Mujahid, biasanya kita tidak akan bisa mendapatkannya. Namun kalau kita mau jalan-jalan, banyak sekali lahan dakwah yang membutuhkan mentor. Jumlah SMA di Kota Bandung ada 200-an. Jumlah Kampus ada 100-an. Belum lagi jika dihitung jumlah masjid yang ada di masyarakat.
Bagaimana mengelola kelompok halaqah binaan sebanyak itu?
Mungkin kita berpikir bahwa kalau memegang 10 kelompok halaqah maka harus menyusun 10 materi pembinaan setiap pekannya. Ternyata cara al-Akh Mujahid tidak seperti itu. Ia menyusun satu materi pembinaan untuk disampaikan pada semua kelompok. Maka waktu persiapan jadi hemat. Materi yang disiapkan pun lebih berdaya guna.
Halaqah diagendakan dalam 60 – 90 menit saja. Dan di dalamnya ia tidak harus berbicara terus menerus, tapi lebih banyak diskusi dan mempersilahkan para binaan untuk berpendapat. Disinilah al-Akh Mujahid bisa beristirahat. Selain itu dengan diadakannya presentasi bergilir di antara binaan, ia bisa melatih para binaannya agar siap menjadi murabbi di masa depan.
Al-Akh Mujahid juga memanfaatkan facebook. Ia membuat grup di situs jejaring social itu untuk setiap grup halaqah. Materi-materi yang tidak bisa disampaikan saat halaqah, dapat disampaikan melalui grup facebook tersebut.
Jika ada binaannya yang tidak bisa hadir pada jadwal yang ditentukan, maka ia diharuskan hadir pada jadwal kelompok lain.
Di setiap kelompok al-Akh Mujahid menunjuk satu orang yang bertugas menjarkom dan mencarikan jadwal halaqah serta menanyakan konfirmasi kehadiran anggota. Data kehadiran harus dimasukkan dalam Microsoft excel yang terpadu sehingga bisa di cek bagaimana kehadiran setiap peserta dalam halaqah.
Ada yang mengatakan bahwa memegang banyak kelompok tidaklah akan optimal. Tapi menurut pendapatnya tidak semua kelompok harus diperlakukan secara optimal. Sekedar “cukup” saja ternyata membuat binaan semakin baik. Ia berpikir, lebih baik memegang satu halaqah dengan optimal dan sembilan halaqah lainnya dengan kategori cukup saja, daripada Sembilan halaqah tersebut tidak mendapatkan pembinaan sama sekali.
Agar para binaannya mendapat kualitas pembinaan yang kian prima, al-Akh Mujahid secara bertahap mendelegasikan pembinaan kelompoknya kepada orang lain yang siap. Bila ia tidak bisa hadir dalam halaqah, ia akan berusaha untuk mencari murabbi pengganti sementara.
Agar semangat juang dan kekhusyu’annya dalam membina terjaga, Al-Akh Mujahid biasa mendengarkan nasyid Sang Murabbi dalam perjalanannya menuju tempat halaqah.
Barokallahu laka ya akhi…semoga para aktivis dakwah dapat mengambil teladan dari kesungguhanmu dalam mentarbiyah umat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan ampunan, rahmat, barokah, dan keistiqomahan kepadamu dan kepada seluruh aktivis dakwah di negeri ini. Amin….

MUI Samarinda: Polisi Tidur Hukumnya Makruh dan Haram




MUI Samarinda: Polisi Tidur Hukumnya Makruh dan Haram

Polisi tidur © jakartafokus
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda menyebut polisi tidur atau penghalang jalan hukumnya makruh dan haram. Makruh bila penempatan polisi tidur tidak membahayakan pengguna jalan dan haram bila keberadaan polisi tidur justru membahayakan pengguna jalan.
Diungkapkan Ketua MUI Samarinda, KH Zaini Naim, penetapan itu dilakukan karena banyak keluhan dari masyarakat dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Samarinda.
Salah satu pendeta yang menjadi anggota FKUB mengeluhkan banyaknya penghalang jalan di dalam gang-gang. Polisi tidur biasanya untuk mencegah pengendara agar tidak kebut-kebutan, tapi terkadang, keberadaan polisi tidur justru membahayakan pengendara.
 “Pernyataan itu mengemuka dalam pertemuan terbuka bersama tokoh agama dan pemkot di rumah jabatan Walikota Samarinda,” kata Zaini kepada VIVAnews, Kamis, 7 Febuari 2013.
Zaini melanjutkan, selain membahayakan, keberadaan polisi tidur itu juga membuat kendaraan yang melintas rusak. Apalagi, kebanyakan polisi tidur di gang-gang Samarinda cukup tinggi. Kadang membuat rusak bagian bawah kendaraan.
Menurut Zaini, dalil yang membuat MUI mengeluarkan pernyataan itu berdasarkan ucapan Nabi Muhammad bahwa kewajiban seseorang yang duduk di pinggir jalan adalah menyingkirkan batu dan penghalang yang dianggap mengganggu. Itu untuk memudahkan agar orang nyaman melintas.
“Kondisi jalan yang sudah mulus tidak perlu diberi penghalang. Kalau tujuannya untuk menghalangi orang ngebut, lebih baik dibuatkan pengumuman atau imbauan. Jangan buat penghalang yang bisa membahayakan keselamatan,” katanya.

Gambaran Dajjal menurut al Hadist




GAMBARAN DAJJAL MENURUT AL-HADITS

Segala macam keistimewaan yang kami lihat pada peradaban Barat sekarang ini, semuanya sesuai dengan ciri-ciri Dajjal yang dilihat oleh Nabi Muhammad SAW dalam ru’yah. Memang benar bahwa bangsa-bangsa ini mempunyai sedikit perbezaan satu sama lain, tetapi ada satu hal yang semuanya sama. Dan ciri yang sama inilah yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam memberi gambaran tentang Dajjal.
Kami hanya akan mengutip Hadits-hadits yang menguraikan ciri-ciri Dajjal. Marilah kita mulai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
1. “Dan aku melihat orang yang berambut ikal pendek, yang mata-kanannya buta Aku bertanya: Siapakah ini? Lalu dijawab, bahwa ia adalah Masihid – Dajjal” (Bukhari 77:68,92)
2. “Awas! dia pecak (buta sebelah)… dan diantara dua matanya, tertulis ‘Kafir’…” (Bukhari 93:27).
Dari gambaran tersebut dapatlah kami catat:
1. Bahawa mengenai bentuknya, Dajjal digambarkan berbadan kekar.
2. Bahawa roman-mukanya putih dan mengkilat.
3. Bahawa rambut kepalanya pendek dan ikal.
Tiga gambaran ini sesuai sekali derigan bentuk orang-orang Eropah pada umumnya. Mereka itu pada umumnya berbadan kekar; bertubuh baik dan kuat; rambutnya pendek dan ikal, sampai-sampai wanitanya pun memotong pendek rambutnya; kulit mereka putih dan mengkilat. Jadi, gambaran tentang ciri-ciri Dajjal tersebut, cocok sekali dengan perwujudan orang-orang Eropah.
Adapun dua ciri lainnya, yakni, bahwa mata kanan Dajjal buta, dan pada dahinya tertulis kaf, fa’dan ra’ atau kaflr, ini menggambarkan keadaan rohani Dajjal yang sebenarnya. Sebagaimana telah kami terangkan, Dajjal menggambarkan suatu bangsa. Sebagai bangsa, tak mungkin semuanya buta mata jasmaninya.
Selain itu, Dajjal yang digambarkan buta mata kanannya, mata-kiri Dajjal digambarkan bersinar gemerlapan bagaikan bintang. Dengan perkataan lain, mata-kanan Dajjal digambarkan hilang cahayanya, tetapi mata-kirinya bersinar terang. Penjelasan yang diberikan oleh Imam Raghib tentang mata Dajjal yang buta sebelah kanannya, sungguh ilmiyah sekali. Pada waktu menjelaskan erti kata al-Masih, beliau menerangkan bahawa kata masaha bererti menghapus sesuatu, lalu beliau menambahkan keterangan sbb:
“Diriwayatkan bahawa mata-kanan Dajjal hilang penglihatannya, sedangkan nabi ‘Isa mata-kiri beliaulah yang hilang penglihatannya; dan ini bererti bahawa Dajjal tak mempuyai sifat-sifat akhlak tinggi, seperti misalnya kearifan, kebijaksanaan dan rendah hati; sedangkan nabi ‘Isa tak mempunyai kejahilan, keserakahan, kerakusan dan sebagainya yang termasuk jenis akhlak yang rendah”.
Jadi, gambaran Dajjal buta mata-kanannya janganlah ditafsirkan secara harfiyah, melainkan secara kalam ibarat, yakni harus diertikan bahawa Dajjal tak mempunyai akhlak yang baik.
Bahwa dua mata manusia itu, yang satu digunakan untuk melihat hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian dan agama, dan yang satu lagi digunakan untuk melihat hal-hal yang berhubungan dengan kebendaan dan keduniaan. Oleh kerana hal-hal yang berhubungan dengan agama dan kerohanian itu lebih tinggi kedudukannya daripada hal-hal yang berhubungan dengan kebendaan dan keduniaan, maka buta mata kanan Dajjal bererti bahwa Dajjal sedikit sekali perhatiannya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan agama atau kerohanian, dan ini sesuai sekali dengan apa yang dialami oleh bangsa-bangsa Eropah sekarang ini.
Seluruh parhatian mereka ditujukan kepada hal-hal yang berhubungan dangan kebendaan dan keduniaan dan kemajuan mereka dalam bidang ini tak ada bandingannya. Inilah yang dimaksud dengan apa yang diuraikan dalam Hadits, bahwa mata-kiri Dajjal bersinar gemerlapan bagaikan bintang. Ertinya, Dajjal mampu melihat segala macam barang-barang duniawi, yang bangsa-bangsa lain tak mempunyai pengertian tentang itu. Tetapi mata rohani Dajjal tak mempunyai penglihatan yang tajam, kerana semua kekuatan Dajjal dihabiskan guna kepentingan urusan duniawi. Sukses Dajjal yang tak ada taranya dalam urusan duniawi mengakibatkan buta sebelah. Penjelasan ini sungguh mengagumkan dan sesuai sekali dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an  tentang bangsa-bangsa Kristian:
“Orang-orang yang usahanya menderita rugi dalam kehidupan dunia, dan mereka mengira bahawa mereka amat pandai dalam membuat barang-barang” (18:104)
Hadits Nabi melukiskan hal ini dengan kalam ibarat, bahwa mata kiri Dajjal, yaitu, mata-duniawi bersinar gemerlapan bagaikan bintang. Adapun keadaan rohani bangsa-bangsa Dajjal Allah berfirman sbb:
“Mereka adalah orang-orang yang mengkafiri ayat Tuhan, dan (mengakhiri) perjumpaan dengan Dia” (18 : 105).
Hadits Nabi menjelaskan hal ini dengan caranya sendiri, yaitu, bahwa mata-kanan Dajjal tak mempunyai kekuatan untuk melihat ayat Tuhan.
Tanda Dajjal yang lain, yakni tulisan kafara atau kafir pada dahinya ini berkenaan pula dengan keadaan rohaninya. Jika orang berkata, bahwa pada dahi seseorang terdapat tulisan anu, ini sama ertinya dengan mengatakan, bahwa anu itu adalah fakta senyata-nyatanya bagi dia. Maka dari itu, uraian Hadits bahwa pada dahi Dajjal terdapat tulisan kafir, ini hanyalah bererti bahawa kekafiran itu merupakan kenyataan yang senyata-nyatanya bagi dia.
Kata-kata Hadits itu sendiri sudah menerangkan; bahawa demikian itulah nyatanya. Pertama-tama, Hadits menerangkan bahawa tiap-tiap mukmin dapat membaca tulisan itu; jadi bukan tiap-tiap orang dapat membaca tulisan itu. Lalu ditambahkan kata penjelasan tentang orang mukmin itu, yakni, “baik ia buta huruf atau mengerti tulis menulis.” Ertinya, tiap-tiap orang mukmin dapat memahami tulisan itu, baik ia mengerti tulis-menulis atau tidak.
Sudah terang, bahawa tulisan yang dapat dibaca oleh tiap-tiap orang mukmin, baik ia mengerti tulis-menulis atau buta huruf, tak mungkin berwujud kata-kata atau huruf. Jika tulisan itu berwujud kata-kata atau huruf, niscaya tak dipersoalkan lagi apakah pembacanya mukmin atau kafir, demikian pula tak perlu dinyatakan bahawa orang mukmin dapat membaca tulisan itu sekalipun ia buta-huruf.
Kepandaian membaca tulisan, tak ada sangkut pautnya dengan urusan iman. Setiap orang yang tak buta huruf pasti dapat membaca tulisan, sedangkan orang buta huruf, sekalipun ia orang mukmin sejati, ia tetap tak dapat membaca tulisan. Oleh kerana itu, tulisan yang dimaksud bukanlah tulisan biasa, melainkan menifestasinya perbuatan seseorang. Pernyataan bahwa tulisan itu hanya dapat dibaca oleh orang mukmin saja, ini bererti, bahwa orang kafir tak pernah sedar akan kekafirannya, sehingga membutakan mata orang mukmin untuk membaca buruknya kekafiran mereka.