Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

Memaknai Pembangunan




    MEMAKNAI PEMBANGUNAN
Oleh: Akmal Sjafril, ST., M.Pd.I.
Istilah Islamic worldview menjadi bahasan yang begitu kontroversial di kalangan pemikir Barat, tidak lain karena topik ini merupakan pembuktian dari ajaran Islam yang komprehensif. Islam bukan semata-mata kumpulan aturan hidup, melainkan juga sebuah ajaran yang membimbing manusia untuk memandang dan menganalisis segala sesuatu yang dijumpainya di dunia, yaitu dalam masa hidupnya. Itulah yang disebut worldview.
Pada tahun 2009 yang lalu, seorang cendekiawan Muslim berkebangsaan Malaysia, yaitu Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, sempat bertandang ke kampus Universitas Indonesia (UI) untuk menyampaikan sebuah ceramah umum yang berjudul Pendidikan Tinggi dan Pembangunan: Perspektif Islam. Pada bagian awal dari ceramah beliau ini, kita jumpai sebuah upaya pemaknaan ulang terhadap pembangunan yang layak untuk kita cermati bersama.
Dalam pandangan Prof. Wan, istilah “pembangunan” itu sendiri sebenarnya sudah cukup bermasalah. Pasalnya, kata ini terlanjur memiliki kontoasi yang materialistis, sehingga “pembangunan” seringkali dianggap identik dengan “bangunan”. Maka ketika mengukur tingkat pembangunan suatu daerah, kita cenderung menyorot aspek-aspek fisiknya saja, misalnya gedung-gedung yang tinggi. Adapun aspek-aspek ruhani dari suatu peradaban seperti pengembangan mental masyarakat justru terlalu sering diabaikan.
Kita juga menemukan masalah dalam menggambarkan makna “pembangunan” ini ke bahasa Arab. Salah satu kata yang lazim dipakai adalah “tanmiyyah” yang bermakna “pertumbuhan”. Akan tetapi, pembangunan tidak selalu berupa proses bertumbuhnya segala sesuatu. Adakalanya, pembangunan justru mematikan sesuatu, misalnya kejahatan, perbuatan curang, maksiat dan sebagainya. Justru dengan melenyapkan hal-hal semacam itulah, atau dengan tidak membiarkannya tumbuh, pembangunan di suatu negeri dapat berjalan secara optimal.
Kata lain yang biasa digunakan adalah “taghayyur” yang berarti “perubahan”. Akan tetapi, pembangunan tidak mesti mengandung perubahan. Ada hal-hal tertentu yang tak boleh diubah, dan jika sudah terlanjur berubah, maka ia perlu dikembalikan ke bentuk asalnya. Dalam agama, kita mengenal hal-hal yang berkaitan dengan ‘aqidah yang tak boleh diubah dengan alasan apa pun. Jika masyarakat telah berpaling dari shalat menuju penyembahan pada kuburan, misalnya, maka perubahan ini justru akan mengganggu pembangunan di negeri itu, karena perilaku masyarakat yang jauh dari rasional.
Istilah terakhir adalah “taqaddum” yang berarti “gerakan maju”. Meski kedengarannya baik, istilah ini pun tidak kurang bermasalahnya, karena banyak ornag yang hanya ingin maju tanpa pernah menengok ke belakang. Sikap ini jauh dari tuntunan Islam yang mengharuskan kita untuk mempelajari sejarah dan menangkap hikmah-hikmah di baliknya, justru sebagai bekal untuk melangkah ke depan. Jika kita tidak belajar dari sejarah, bahkan bersikap sombong terhadap generasi terdahulu, bisa jadi peradaban manusia akan selalu mengalami pengulangan, karena semua orang tidak belajar dari pengalaman para pendahulunya.
Menurut Prof. Wan, penghargaan terhadap sejarah adalah hal yang sangat penting bagi seorang Muslim. Kita bukan hanya disuruh belajar dari generasi sahabat di jaman Rasulullah saw, melainkan juga mempelajari sepak terjang para Nabi sebelumnya, bahkan lebih jauh lagi, yaitu kembali ke masa ketika ruh kita bersaksi di hadapan Allah SWT. Mereka yang senantiasa ingat akan hal itu akan memahami hakikat dirinya sebagai manusia; makhluk yang mengemban misi sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi. Dengan kesadaran semacam inilah manusia seharusnya membangun, dan hanya dengan cara demikianlah kita benar-benar menjadi rahmatan lil ‘aalamiin.
Untuk memahami istilah “pembangunan”, Prof. Wan mengusulkan istilah “peng-ishlah-an”. “Ishlah” adalah segala tindakan yang membawa pada kebaikan. Segala hal yang membawa kebaikan, itulah pembangunan. Ada kalanya kita harus membuat bangunan, ada kalanya harus membangun cagar alam, ada kalanya menumbuhkan kebaikan, ada kalanya memberantas kemaksiatan, ada kalanya melakukan perubahan, ada kalanya bersikukuh pada sebuah prinsip, ada kalanya maju dan ada kalanya berhenti sejenak atau mundur. Asalkan ia membawa pada kebaikan, maka ia telah patut disebut sebagai “peng-ishlah-an”.
Peng-ishlah-an tidak dibatasi oleh pengertian materialistis, karena untuk menuju pada kebaikan justru harus melalui jiwa-jiwa yang cenderung pada kebaikan. Mengukur kebaikan dengan parameter-parameter materialistis adalah logika yang digunakan oleh Iblis ketika ia menolak sujud kepada Nabi Adam as; ia merasa lebih mulia karena terbuat dari api, sedangkan manusia hanya terbuat dari tanah (lihat QS. al-A’raaf [7]: 12).
Penggunaan istilah “ishlah” juga mengimplikasikan adanya faktor iman sebagai penopang, karena ishlah tak dapat dipahami tanpa iman. Tak ada cara lain untuk menjelaskan sebuah amal shalih (yaitu amal yang menimbulkan ishlah) kecuali dengan pengertian-pengertian yang digunakan oleh orang yang beriman.

Puncak Peradaban?
Cara kita memaknai pembangunan dengan sendirinya akan menentukan bagaimana kita menilai peradaban manusia itu sendiri. Seringkali, perbedaan antara ‘puncak kejayaan’ dan ‘dasar jurang kejahilan’ sangat tipis bedanya.
Ketika Islam datang, kejahilan merajalela di tanah Arab. Mereka adalah pewaris risalah Nabi Ibrahim as dan Nabi Isma’il as, namun tenggelam dalam kemusyrikan. Ka’bah ada di tengah-tengah mereka dan senantiasa jadi pusat perhatian bagi masyarakat Arab, namun mereka mengikut kaum lain yang suka membuat berhala. Mereka senang berkonsultasi dengan ahli nujum, percaya bahwa nasib bisa ditentukan oleh bintang-bintang dan anak panah, gemar berjudi dan menenggak khamr, dan tentu saja, prostitusi bukan barang langka.
Pada saat yang bersamaan, dua kekuatan superpower pada masa itu tengah bergelimang kejayaan materi, namun tidak kalah jahilnya dengan masyarakat Arab pada masa itu. Di tengah-tengah bangsa Persia berkembang berbagai aliran kepercayaan. Mereka percaya ada ‘tuhan baik’ dan ‘tuhan jahat’ yang saling bersaing dan mengacaukan hidup manusia. Mereka juga menghalalkan perzinaan, dan sekali lagi, penyembahan berhala. Bangsa Romawi yang dikenal dengan keteraturan militernya tidak lebih baik. Kaisar-kaisar mereka hidup bergelimang harta dan kenikmatan duniawi lainnya di istana-istana mereka. Kaum elit mengeksploitasi berbagai kesenangan hingga akhirnya mereka tak lagi merasa senang dan terpaksa mencari kesenangan-kesenangan baru. Di lingkungan istana Romawi, perilaku homoseksual, biseksual, bahkan berhubungan seks dengan binatang sekalipun, bukanlah berita yang aneh. Masyarakat dibikin repot dengan kehadiran penguasa-penguasa psikopat seperti Kaisar Nero dan Caligula.
Jika kita mengukur peradaban dari parameter-parameter Iblis (yang materialistis), maka Persia dan Romawi tak pelak lagi tengah berada di puncak kejayaannya. Akan tetapi jika kita menggunakan ishlah sebagai ukuran, maka jelaslah bahwa kehidupan mereka pada masa itu sangat sedikit sekali membawa manfaat bagi kemanusiaan. Sebaliknya, kedua peradaban ini dikenal sebagai penakluk yang tega menghancurkan dan mengeksploitasi negeri-negeri jajahannya.
Andaikan pembangunan diukur dari bangunan, maka Romawi pada masa itu sangatlah sukar dicari tandingannya. Istana-istana megah mereka bertebaran di seluruh wilayah kekuasaannya. Kuil-kuil indah menjadi naungan mereka dalam upacara-upacara penyembahan dewa-dewi yang juga dibuatkan patung-patung indahnya.
Untuk menghibur rakyatnya, pemerintah Romawi membangun sebuah gedung megah. Akan tetapi, bukan drama yang dipentaskan di sana, melainkan ‘hiburan’ bagi mereka yang haus darah. Budak belian dan rakyat dari negeri jajahan digiring ke tengah arena, sebelum diadu dengan lawan yang sangat tidak seimbang: gladiator bersenjata lengkap atau hewan buas yang sudah lama tak diberi makan. Itulah hiburan ala Romawi. Mereka bersorak sorai dan tertawa terbahak-bahak ketika tubuh para petarung tercabik-cabik, bahkan mereka senang menyaksikan daging manusia dilahap oleh binatang buas.
Bagi mereka yang menggunakan worldview materialistis, maka kemegahan gedung itulah yang menimbulkan decak kagumnya. Akan tetapi bagi mereka yang memahami kisah sejarah di balik pembangunannya, perasaan mirislah yang akan hadir.
Di Mesir, Piramida dan bangunan-bangunan megah lainnya seperti Patung Sphinx dianggap sebagai ikon puncak kejayaan peradaban Mesir kuno. Padahal, jika kita telisik dari sisi ke-ishlah-an, yang tentu saja dibingkai oleh faktor iman, maka hal-hal itulah yang menunjukkan kejahilan peradaban tersebut.
Piramida yang sebesar dan semegah itu dibangun hanya untuk menguburkan seorang raja. Betapa besar effort yang harus dikerahkan oleh bangsa Mesir hanya untuk mengebumikan jenazah satu orang, yang sebenarnya hanya perlu dibuatkan lubang yang tidak lebih besar daripada lubang-lubang kuburan orang lainnya. Tidak hanya itu, konon mereka pun menguburkan harta kekayaan sang Fir’aun di dalam piramida itu, padahal ia bisa lebih bermanfaat bagi umat manusia yang masih hidup, bukan yang mati.
Jika di bagian luarnya kita temui tumpukan batu yang tersusun dengan begitu mengagumkan, maka bagian dalamnya pun tidak kurang menakjubkannya. Berbagai lukisan dibuat, entah berapa banyak seniman yang dikerahkan. Lorong-lorong rahasia ada di mana-mana, dibuat dengan mekanisme yang masih belum terpecahkan sepenuhnya di masa sekarang. Semua itu dilakukan demi mengebumikan satu jenazah saja, yang kebetulan semasa hidupnya adalah seorang raja.
Sebelum kita mengklaim bahwa Piramida adalah bukti kejayaan bangsa Mesir kuno, camkanlah betapa besar pengorbanan masyarakat Mesir untuk mewujudkannya. Bukan hanya keringat, tapi air mata dan darah. Bukan kekuasaan sang raja yang perlu dikagumi, namun pengorbanan rakyatnya yang harus ditangisi. Entah berapa banyak budak belian dikerahkan untuk menyelesaikan proyek raksasa semacam itu. Jika kini manusia dapat dibantu dengan crane untuk menyusun rangka baja bangunan, maka dahulu hanya tangan manusialah yang dapat diandalkan untuk menyusun batu-batu besar itu menjadi sebuah piramida yang berdiri kokoh hingga ribuan tahun.
Bayangkanlah berapa banyak anak yang dipisahkan dari orang tuanya untuk menjadi budak belian di negeri Mesir. Hitunglah berapa banyak luka di punggung para budak yang harus menerima lecutan cambuk dari para prajurit yang senantiasa mengintai pekerjaan mereka. Berapalah harga nyawa seorang budak, sehingga proyek pun tak mau menunggu barang sehari jika ada di antara mereka yang mati kelelahan. Jika ada yang mati, datangkan lagi dari tempat lain. Itulah harga dari sebuah piramida. Ada berapa piramida di seluruh dataran Mesir? Puluhan ribu, atau mungkin ratusan ribu nyawa harus meregang karena seorang raja terlanjur dijemput maut. Itukah puncak peradaban?
Bagi seorang Muslim, kemajuan peradaban tidaklah dinilai dari bangunannya. Islam adalah peradaban yang dibangun di atas ilmu, bukan di atas batu. Oleh karena itu, peradabannya adalah peradaban ilmu, bukan peradaban batu. Ketika mengenang Rasulullah saw dan generasi sahabat, ingatan kita tidak terbawa pada bangunan-bangunan megah, namun pada sikap hidup yang mulia.
Inilah peradaban yang dibangun dengan tauhid. Hanya Allah-lah satu-satunya Ilah bagi manusia; tempat mereka bergantung. Mereka tidak bergantung pada peruntungan, tidak pula pada hari baik dan hari buruk, apalagi pada para ahli nujum. Mereka tidak takut kehilangan harta ketika Sang Pemberi Rizki memerintahkan mereka untuk pergi hijrah, dengan atau tanpa perbekalan. Mereka tidak tergantung pada kenikmatan duniawi, sehingga botol-botol dipecahkan begitu saja ketika mendengar bahwa khamr diharamkan secara mutlak. Mereka begitu saling mendahulukan dan anti menyerobot, hingga orang yang sekarat pun masih bisa mendahulukan saudaranya yang sama-sama sekarat. Mereka saling mencintai dengan begitu hebatnya sehingga tidaklah layak jika ada salam yang tak dijawab, bahkan bersin pun dihadiahi doa.
Bagi para kader dakwah, penting sekali untuk memahami kemuliaan peradaban Islam yang pernah berjaya di muka bumi ini. Untuk itu, yang harus dibangun bukanlah gedung-gedung, melainkan jiwa manusia itu sendiri. Sebelum memulai segala sesuatunya, worldview kitalah yang harus di-setting ulang.

0 komentar:

Poskan Komentar