Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

Mengukur Kesempatan




  MENGUKUR KESEMPATAN

Muhammad Elvandi.Lc
Jika garis tanggung jawab itu mulai dari usia baligh, lalu dimana akhirnya? Kapan seorang pemuda merintis misi-misi besarnya dan kapan bendera kejayaan dipancangkan dipuncaknya? Berapa lama waktu yang tersedia antara awal dan puncak karya itu ?
Akhir masa kerja seorang muslim ditutup oleh ajal. Rentang waktu yang tersedia itulah kesempatan manusia bekerja, hanya itu. Bahkan di dalam kesempatan itu masih tersimpan berperiode musim. Tidak semuanya musim semi amal dan hangat semangat atau mekar karya dan subur kinerja. Karena akan tiba masa gugurnya hingga dingin yang menusuk, salju yang membekukan sendi potensi dan hingga diselesaikan kematian. Dari pemahaman ini para pemuda muslim pencetak sejarah mengoptimalkan musim semi kerja yang sering disebut masa muda.
Memang tidak ada batas akhir usia untuk mendefinisikan kata pemuda. Karena pemuda lebih diwakili oleh karakteristik yang penuh keyakinan, semangat, keikhlasan dan kinerja seperti kata Hasan al-Banna dalam risalahnya yang khusus ditujukan untuk pemuda. Jadi walaupun usia sudah melebihi 40, selama keempat karakter itu masih terpancar di setiap gerak, mereka adalah pemuda. Dan itu ada di generasi sahabat. Misalnya, mayoritas kader utama Rasul, dari As-Sâbiqûnal Awwalûn [para perintis], Muhâjirîn dan Anshâr adalah para pemuda.
Tapi persoalannya, karakter itu tidak terjadi di seluruh generasi kecuali sedikit saja. Sehingga jika ada sebagian ulama yang mengkhususkan masa muda hingga tiga puluh lima atau empat puluh tahun, itupun tidak sepenuh salah. Terutama jika ia diartikan masa emas untuk merealisasikan kerja-kerja besar. Karena secara umum  keempat karakteristik itu terkumpul dibawah usia ini. Jadi durasi masa muda ini lebih untuk memudahkan pendefinisian kesempatan terbaik usia.
Para pemuda muslim pencetak sejarah memahami benar bahwa waktu yang tersedia bagi mereka terlalu sedikit. Mereka melihat posisi mereka di dunia ini seperti “orang asing atau pejalan yang sedang melintas” seperti sabda Rasul. Sehingga waktu hidup bagi mereka adalah waktu kerja, tanpa henti. Mereka beristirahat, namun hanya setarik-dua tarik nafas untuk kembali mendaki tangga misi.
Dan karena tugas yang ada lebih banyak dari waktu yang tersedia maka bagi mereka kesempatan yang ada bukan dipakai untuk sekedar bekerja, tapi melakukan kerja-kerja terbaik. Jika ada seratus proyek dakwah, yang terberatlah pilihan mereka. Karena mereka ingin menebus kesempatan kerja mereka yang pendek dengan efek yang berganda.
Namun itu tidak bisa dilakukan pemuda-pemuda biasa yang hidup dalam kebiasaan populer. Oleh mereka yang menua hanya dalam urutan sekolah formal, kuliah, kerja, menikah, berpinak, tua dan mati. Ada konsep khusus yang mereka desak kedalam jiwa mereka. Sehingga dalam tahun-tahun awal masa muda, mereka telah melipat-gandakan kapasitas diri untuk memikul kerja-kerja super besar di masa tua. Kerja-kerja itu bukan hanya mempengaruhi zamannya tapi merubah wajah dunia ini.
Lihat misalnya Harun al-Rasyid, ia dibina secara intens bukan oleh satu guru, tapi sebuah tim pakar berbagai ilmu di zamannya sejak kecil. Maka ketika di usia dua puluh dua tahun naik menjadi Khalîfah, ia mulai misi-misi besarnya dari Baghdad untuk kemanusiaan hingga masanya dikenal sebagai zaman keemasan Daulah Abbasiyyah di akhir abad ke-8. Sampai-sampai kisah rakyat yang berhubungan dengan kejayaan Islam selalu diidentikan dengan namanya, seperti seribu satu malam.
Keagungan Harun al-Rasyid bukan karena ia anak khalifah yang kemudian menjadi khalifah lalu otomatis mencetak karya-karya besar. Karena betapa banyak khalifah dan raja di dunia ini yang tidak berkarya, dan tugu nama mereka yang saat itu kokoh pun terkikis oleh sekedar angin sepoi suksesi.
Karya-karya besar itu adalah hasil kapasitas. Jika kapasitas itu didampingi otoritas kepemimpinan, tentu akan sempurna. Tapi kapasitas yang dibangun sejak kecil-lah sumber utama karya Harun al-Rasyid, bukan sekedar posisinya. Ide masa depan, kemampuan leadership, manajerial, teknis, dan seperangkat keilmuan yang multidisiplin itu telah dirakitnya perlahan di waktu-waktu emasnya. Sehingga semua tantangan hidup di masa paruh baya dan tua selalu mampu dijawab secara ilmiah berdasarkan kapasitas yang sejak muda didapatnya.
Oleh karena itu para pemuda muslim pencetak sejarah selalu membagi kehidupan mereka menjadi fase pengisian kapasitas diri dan fase kontribusi. Karena daya kontribusi itu sangat tergantung dengan besar kapasitas, maka di musim emas usia, mereka habiskan untuk tanam karakter dan isi kapasitas.
Tapi bukankah sejak bulugh mereka harus sudah mulai berkontribusi? Ini bukan berarti fase belajar tidak berkontribusi dan fase kontribusi tidak belajar. Karena dalam belajarlah pemuda berkontribusi untuk masa depan agama dan negaranya. Dalam dalam proses kontribusilah kapasitas mereka kian matang. Keduanya bersamaan tapi waktu mereka lebih terkonsentrasi pada peningkatan kapasitas diri di masa muda yang sangat pendek.
Ada jebakan halus yang menggoda para pemuda yang bersemangat saat membaca kisah tokoh-tokoh muda yang menyejarah. Bahwa kesuksesan mereka di usia muda tidak bisa dibaca secara linear. Kesuksesan mereka di usia muda terlebih karena kapasitas mereka memang matang di usia itu. Sehingga yang perlu menjadi acuan bukanlah angka usia untuk kesuksesannya tapi percepatan dirinya yang sedari muda. Itulah sebabnya mereka mulai intens mencetak diri dengan serius di usia baligh bahkan sebelumnya. Karena mereka mengukur bahwa kesempatan ideal untuk mengisi kapasitas tidaklah panjang.
Jika di zaman ini rata-rata kerja dakwah yang berat dan tugas-tugas besar seorang muslim dimulai usia 30-35, dan rata-rata usia manusianya 70 tahun, itu artinya, kesempatan pengisian kapasitas diri yang tersedia sejak usia baligh sekitar 15-20 tahun. Sependek inilah kesempatan pemuda mengisi sumber utama kapasitas dirinya untuk berdinamika selama 40 tahun kedepan. Oleh sebab itu obsesi yang selalu berkecamuk di pikiran para pemuda muslim pencetak sejarah adalah pengisian kapasitas diri. Dari sini fahamlah ungkapan terdalam Umar bin Khattab saat berkata ‘‘belajarlah sebelum memimpin, karena jika kalian sudah menjadi pemimpin, tidak ada jalan lagi untuk itu’’.

0 komentar:

Poskan Komentar