Pages

Kamis, 07 Februari 2013

Prancis serukan perang global terhadap pejuang Islam di Mali




Prancis Serukan Perang Global Terhadap Pejuang Islam di Mali

Pemimpin Prancis dan Afrika Barat meminta  masyarakat internasional untuk membantu logistik dan keuangan guna mengatasi  kelompok-kelompok Islam bersenjata di Mali.
Menurut surat kabar ekonomi Saudi, para pemimpin negara Afrika bertemu di Pantai Gading pada akhir pecan untuk membahas operasi militer yang pembahasan pertamanya telah dikemukakan pada bulan April tahun lalu, ketika kelompok Islamis mendominasi Mali utara.
Dalam konteks operasi militer yang disebut dengan “Operasi Serval”, maka militer Prancis mengerahkan dua ribu tentara di Mali. Mereka akan membantu tentara Mali di garis depan sebagai tindakan sementara sampai salah satu kekuatan regional siap untuk dikerahkan, demikian menurut surat kabar tersebut.
Dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu (19/1), pada KTT yang diselenggarakan di Pantai Gading, Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius berkata: “Teman-teman Afrika kami perlu mengambil peran utama dalam upaya mengakhiri pemberontakan kelompok Islamis.”
Fabius menambahkan: “Saya menyerukan kepada semua mitra pembangunan Afrika untuk datang ke Addis Ababa, dan berkontribusi dengan tulus untuk pekerjaan ini yang merupakan bentuk dari solidaritas, perdamaian dan keamanan, sama saja untuk kawasan maupun benua.” Dikatakan bahwa Kanada telah menawarkan untuk membantu dalam menerbangkan tentara Afrika ke Mali.
Sehubungan dengan hal ini, dalam beberapa hari terakhir, telah tiba ke Mali ratusan tentara dari Togo, Benin, dan Nigeria. Bahkan dijadwalkan, bahwa Nigeria yang akan memimpin misi kawasan itu akan mengirim 1.200 pasukan. Sementara Chad telah berjanji untuk mengirim 2.000 tentara, namun waktu kedatangan mereka belum pasti. Dengan demikian, ketika pengerahan penuh dari kekuatan Afrika akan ada dukungan 5.500 tentara Prancis, kata Fabius.
Pada saat yang sama, Jerman berjanji kemarin untuk memberikan bantuan keuangan. Sedangkan logistik merupakan masalah lain, dalam kondisi dimana beberapa negara di kawasan itu tidak memiliki peralatan yang tepat untuk melawan kelompok pemberontak, atau pesawat angkut untuk membawa pasukan ke Mali (islammemo.cc, 22/1/2013).

0 komentar:

Poskan Komentar