Pages

Senin, 11 Februari 2013

Jangan Lihat Orang Enaknya Saja, Lihat Juga Bagaimana Proses Mendapatkannya



Jangan Lihat Orang Enaknya Saja, Lihat Juga Bagaimana Proses Mendapatkannya

“Wah, enak sekali jadi dokter A ya, sekali periksa 100 ribu, kalo sehari pasien 50 berarti…, dilayani penuh oleh farmasi, belum kalau ada tindakan, uang mengalir seperti air”

“wah, enak sekali jadi si B, pengusaha sukses, mobilnya banyak, rumah besar, ga perlu pusing mikirin duit lagi, sekarang tinggal ongkang-ongkang kaki, bisnis jalan terus sama anak buah, coba saya jadi dia ya”

Inilah komentar beberapa orang yang mengkin hanya melihat nikmat pada orang tersebut. Berangan-angan bisa seperti mereka. Bisa jadi merasa iri dan bahkan dengki dengan kenikmatan mereka. Tetapi ada satu yang mereka lupakan, yaitu mereka tidak melihat bagaimana proses mendapatkan kenikmatan tersebut. Proses mendapatkannya dengan penuh tetes keringat dan air mata, pengorbanan dan perjuangan.

Mereka tidak melihat bagaimana seorang dokter:

-dahulunya mengurung diri selama sebulan untuk belajar agar bisa masuk kedokteran dengan persaingan yang ketat.

-sekolah lama 6 tahun, kemudian jika spesialis tambah lagi 4 tahun, hapalan banyak dan pelajaran berat.

-ketika menjalani praktek di rumah sakit, bisa tidak tidur semalaman dan paginya harus aktivitas lagi, kecapekan, adrenalin mengalir keras ketika ada pasien gawat.

Mereka tidak melihat bagaimana seorang pengusaha sukses:

-merintis usaha dari nol, membutuhkan kerja keras dan kreativitas serta kerasnya persaingan bisnis.

-pernah ditipu, pernah dipermainkan dalam bisnis, bahkan mungkin pernah meminum obat penenang karena stres memikirkan bisnis.

-pernah terlilit hutang dan diburu rentenir karena usaha yang jatuh bangun.

Jangan sering melihat kenikmatan orang lain dan lupa nikmat sendiri

Janganlah kita sebagaimana orang yang melihat bagaimana kemegahan Qarun dan ingin menjadi seperti Qarun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita ini mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al-Qashash: 79)

Inilah perkataan orang-orang yang cenderung terhadap dunia saja. Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

فلما رآه من يريد الحياة الدنيا ويميل إلى زخرفها وزينتها، تمنوا أن لو كان لهم مثل الذي أعطي

“Tatkala (qorun) dilihat oleh mereka yang menginginkan kehidupan dunia dan cenderung kepada gemerlap dan perhiasannya, maka mereka berangan-angan seandainya mereka sebagaimana Qarun diberi (kenikmatan).”[1]

Dan kita diperintahkan agar jangan terlalu silau dan terpana dengan kenikmatan orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal. “ (Thaha: 131)

Melihat kenikmatan orang lain dan membanding-bandingkan dengan kita hanyalah membawa kesedihan dan menambah duka saja. Al-Baghawi rahimahullah berkata,

قال أبي بن كعب: من لم يعتز بعز الله تقطعت نفسه حسرات، ومن يتبع بصره فيما في أيدي الناس طال حزنه

“Berkata ‘Ubay bin Ka’ab: ‘ Barangsiapa yang tidak merasa mulia dengan kemulian dari Allah akan memutuskan dirinya sendiri dalam kerugian. Barangsiapa yang mengikuti pandangannya terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka akan semakin bertambah kesedihannya.”[2]

Belum tentu mereka bahagia dengan kenikmatan mereka

Kita hanya melihat mereka bahagia saja dengan keadaan mereka. Bisa jadi ternyata mereka tidak bahagia dengan keadaan mereka sekarang. Ambil contohnya para artis yang sudah memiliki segalanya dalam kehidupan dunia, paras aduhai, harta dan ketenaran tetapi kehidupan mereka tidak tenang, kawin-cerai dan sering berurusan dengan hukum.

Atau kita ambil contoh seorang dokter:

-uang memang banyak, tetapi waktu sedikit, jarang bertemu dengan keluarga, pagi sudah praktek, visit pasien, operasi, malam praktek hingga tengah malam, belum lagi ada panggilan darurat atau telpon tengah malam karena darurat. Sehingga ada juga yang rumah tangganya terbengkalai.

Atau contoh pengusaha sukses:

-ternyata ia tidak tenang karena kerasnya persaiangan bisnis, pagi hari hari sudah pusing dengan bisini, makan tidak enak karena ada uang yang dipinjam tetapi belum kembali, tidur tidak nyenyak karena omset berkurang dan lain-lain.

Maka janganlan kita hanya melihat enaknya saja dan nikmatnya saja pada orang lain.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Maka janganlah harta benda & anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At Taubah: 55)

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata,

إنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّـنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَ مَن لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانِ إلاَّ مَنْ يُحِبُّ فَإذَا أحَبَّ اللهُ عَبْداً أعْطَاه ُ الإيْمَانٍِ

“Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada orang yang disenangi dan orang yang tidak disukai. Tidaklah memberikan karunia iman, kecuali kepada orang yand dicintai-Nya. Apabila Allah mencintai seorang hamba, niscaya Allah memberinya karunia iman.”[3]

Bisa jadi juga mereka adalah orang yang menjadi budak dunia saja, siang-malam hanya mencari harta dan dunia saja. Tetapi lupa dan masa bodoh akan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang dzahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka mengenai (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)

Selalu lihat yang dibawah kita dalam urusan dunia

Inilah yang membuat kita senantiasa selalu qanaah dan menerima apa adanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) , maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.”[5]

Ajak berlomba-lomba dengan akhirat

Terkadang hati dan iman kita sedang lemah, kita bisa jadi timbul rasa iri, mereka bisa segera meraih kenikmatan dunia, sedangkan kita terkadang sibuk denganmenuntut ilmu dan dakwah sehingga dunia tidak banyak kita dapat. Maka kita ajaklah mereka berlomba-lomba dengan akhirat misalnya:

-ketika mendengar teman sudah bisa punya rumah dengan membayar KPR maka kita katakan, kita juga sedang membangun rumah disurga dengan memakmurkan masjid dan amalan lainnya.

-ketika mendengar anak tetangga lancar les bahasa inggris, maka kita katakan, anak kita sudah lancar bahasa Arab .

-ketika mendengar teman sudah kuliah S2 atau S3 di Amerika dan Eropa maka kita katakan, saya sudah menghapal sekian juz Al-Quran dan berpuluh-puluh hadits.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Wahib bin Al Warid mengatakan,

إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل

“Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridha Allah, lakukanlah.”
Sebagian salaf mengatakan,

لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك

“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.”[6]

Bersyukur dengan tiga hal ini dan qanaah

Tiga hal itu adalah kesehatan, makanan yang cukup dan tempat tinggal (walaupun ngontrak)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من أصبح منكم آمنا في سربه معافى في جسده عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا

“Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”[7]

Dan sumber kabahagiaan dan kekayaan adalah qanaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.”[8]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”[9]

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid

24 Shafar 1434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel
www.muslimafiyah.com

[1] Tafsir Ibnu Katsir 6/255, Dar Thayyibah, cet. II, 1420 H, syamilah

[2] Tafsir Al-Baghawi 3/281, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, cet. I, 1420 H, syamilah

[3] Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 34545 & dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dlm Shahih Al-Adab Al-Mufrad

[4] HR. Bukhari dan Muslim

[5] HR. Bukhari dan Muslim)

[6] Latha’if Al-Ma’arif Ibnu Rajab, hal. 244, Dar Ibnu Hazm, cet. I, 1424 H, syamilah

[7] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan

[8] HR. Bukhari dan Muslim

[9] HR. Muslim

0 komentar:

Poskan Komentar