Pages

Senin, 28 Januari 2013

Kisah Ketegaran Seorang Suami






“Kalau bukan karena kedua anakku yang masih kecil.. maka aku sudah mengikuti nafsuku untuk segera meninggalkan dan menceraikan istriku yang tidak berbakti itu. Aku tidak mau meninggalkan apa yang menjadi amanat-Mu dalam keadaan lemah Ya Allah.”
Itulah jeritan hati Yudi di malam itu.. di tengah heningnya malam, Yudi sudah biasa melewatkan malam malamnya dengan kemesraan bersama Tuhannya, Allah Swt.
Di samping ruangan tempat sholatnya, terbaring kedua anaknya yang masih balita, tertidur pulas, ditemani istrinya yang enggan bangun untuk menemaninya shalat tahajjud, walaupun Yudi sudah mencoba untuk membangunkannya.
Pagi hari.. Yudi bangun paling awal, sholat shubuh dan langsung beranjak membereskan seluruh isi rumah, mengepel, mencuci piring dan memasak, semuanya sudah menjadi rutinitas Yudi di pagi hari. Setelah selesai, Yudi pun langsung membuka laptopnya dan mulai bekerja melayani jasa para konsumennya.
Yudi adalah seorang konsultan bisnis, banyak sekali pengusaha dan para pebisnis yang mengkonsultasikan masalah bisnis mereka kepada Yudi. Dari penghasilan sebagai konsultan yang bisa dikatakan cukup menjanjikan, Yudi tetap saja ikhlas menjalankan rumah tangga yang sudah hampir 7 tahun dijalaninya tanpa keseimbangan kewajiban suami istri.
Setiap kali Yudi mengajak istrinya untuk melakukan hubungan, istrinya selalu menolak dengan beralasan kurang enak badan. Saat Yudi bekerja, jika ada anaknya yang ingin BAB atau BAK, maka istrinya teriak kepada Yudi untuk mengurusinya. Yudi pun menunda dulu pekerjaannya, meraih anaknya kemudian membawanya ke kamar mandi.
Saat anaknya ingin diantar jajan, maka Yudi pun diteriaki kembali untuk mengantarkannya ke warung.
Saat istrinya ingin sarapan, maka Yudi diminta pergi ke tukang bubur atau tukang gorengan dekat rumahnya.
Itulah keadaan yang dialami Yudi setiap hari. Hal ini dialaminya semenjak beberapa bulan lalu, sepulangnya dari dinas di luar negeri, selama satu tahun lamanya.
Malam hari, saat adzan isya berkumandang, Yudi langsung beranjak ke masjid sambil mengingatkan istrinya untuk sholat isya. Sepulangnya dari masjid, Yudi sudah terbiasa melihat istri dan kedua anaknya sudah terbaring di tempat tidur dan terlelap dalam mimpi. Yudi pun mencoba membangunkan istrinya dan bertanya, “udah sholat Isya Bu???” Istrinya menggeleng dengan mata yang sulit untuk dibuka karena rasa kantuknya. Yudi pun mencoba membangunkan dan memintanya untuk sholat isya dulu, tetapi istrinya tetap menggeleng, bahkan sampai berkata “tidak akh Pa.. nanti saja”..
Itulah ketegaran Yudi dalam rumah tangganya.. aku pun sebagai temannya baru tahu keadaannya seperti itu saat kudesak Yudi untuk mengutarakan masalahnya, karena beberapa minggu ini kulihat wajahnya sangat sendu dan selalu murung.
Saat kubilang “kalau aku.. punya istri seperti itu.. sudah kuceraikan dia Di..!” Tapi, Yudi menjawab dengan tenang dan bijak.
“Kalau urusan menceraikan, itu hal yang mudah.. namun efek yang ditinggalkannya akan terasa sulit bagi anak anak. Bukankah ada ayat Allah yang menyuruh kita agar jangan meninggalkan anak anak kita dalam keadaan lemah. Itulah, saya takut anak anak tidak mendapatkan kasih sayang, pengertian, perhatian serta kecukupan hidup yang layak, sehingga anak anak menjadi manusia yang lemah”
“Lalu.. bagaimana dengan hasrat biologismu Yud?? Sampai kapan kamu bisa bertahan??” Tanyaku..
“Sampai dia mau.. kalaupun seumur hidupnya dia tidak mau, tetap saya tidak akan mencari yang lain. Biarlah kesabaranku, keikhlasanku terhadap istriku sebagai jalanku untuk mencapai Ridho-Nya. Allah Swt. Pasti tahu yang terbaik bagiku.. dan makhluk yang paling indah, paling cantik dan paling membahagiakan bagiku adalah mendapatkan bidadari di syurga..”
Saya tidak bisa berkata apa apa lagi.. setalah mendengar jawabannya..!! Semuanya pasti sudah Yudi pertimbangkan, sehingga dia begitu kuat menghadapi kehidupan rumah tangga yang seperti itu.
Saat banyak orang yang dengan mudahnya bercerai tanpa alasan yang kuat, saat banyak orang tua yang tidak bertanggung jawab terhadap anaknya, saat orang seenaknya menyalurkan hasrat biologis dengan membabi buta, ternyata masih ada orang setegar dan seikhlas Yudi..
Saya pun mendapatkan pelajaran darinya, hidup ini adalah ujian.. seberat apapun keadaannya, semuanya akan bisa dihadapi dengan kesabaran, keikhlasan, dan pengertian bahwa hidup ini hanyalah sebentar.. hanya sekejap saja, jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat..
Betapapun beratnya, sulitnya serta banyaknya masalah yang dihadapi.. maka hadapilah dengan sabar, untuk urusan kebahagiaan.. semoga kita mendapatkan yang hakiki dan abadi di syurga-Nya Allah Swt. Amiin.
  • Jaga anakmu.. karena itu adalah amanat dan investasi buatmu,
  • Janganlah mengikuti nafsumu, karena itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam kehinaan,
  • Janganlah terpesona dengan keindahan dan kecantikan wanita dunia, karena bidadari lebih indah dan lebih cantik dibandingkan wanita tercantik di dunia, bahkan kecantikan wanita di dunia tidak ada seujung kukunya bidadari syurga,
  • Sabar dan ikhlaslah.. Allah mengetahui balasan yang terbaik untukmu..
Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan i’tibar bagi kita semua.. Amiin..
Silahkan share jika sahabat pikir artikel ini bermanfaat…
Posted on 1 Mei 2010 by virouz007
Anakku yang tercinta, ibu sangat menyayangkan kalau surat ini menjadi sarana komunikasi antara kita, akan tetapi dialah satu-satunya cara yang tersisa padaku, yang memungkinkan bagiku untuk memberitahukanmu tentang hal-hal yang harus kamu dengar dariku sebelum ibu meninggalkan kefanaan ini. Ibu, semenjak kamu menipu dan membuat ibu masuk ke tempat (rumah sakit) ini, walaupun ibu tidak menginginkannya .. ibu tidak melihatmu kecuali sedikit sekali, oleh karena itu sekarang ibu ingin berbicara dan kamu akan mendengarkannya tanpa bisa memotong perkataan ibu.
Anakku tercinta … ketika surat ini sampai kepadamu berarti ibu telah meninggalkan kehidupan ini, dan mungkin saja kamu tidak akan membaca suratku ini selama-lamanya, oleh karena itu ibu merasa merasa perlu menyebar-luaskannya sehingga orang selainmu ikut membacanya, dengan demikian setiap anak yang durhaka adalah anakku …
Wahai anakku, sesungguhnya ibu merasa akan mati dalam waktu dekat, dokter telah memberitahukan bahwa kondisi kesehatan ibu kian melemah … dan keengganan ibu untuk mengkonsumsi obat membuat ibu membutuhkan darah tambahan dalam jumlah besar … ketika itu ibu berusaha untuk bersikeras agar tidak makan obat … akan tetapi kehendak dokter memaksaku untuk menyetujuinya karena ibu adalah seorang wanita yang mengimani bahwasanya darah-darah tersebut tidak akan mengembalikan sisa-sisa kehidupan ke-hati dan ruhku … karena pada detik-detik ini ibu melihat sayap-sayap malaikat maut di dalam kamarku.
Wahai anakku, janganlah mengira, bahwa ibu dengan kata-kata ini berusaha untuk menarik simpatimu agar datang kepadaku. Tidak, bukan ini tujuan dan maksudku, karena ibu telah wasiatkan kepada pembawa surat ini agar tidak menyerahkannya kepadamu kecuali setelah ibu meninggalkan kehidupan. Karena ibu tahu bahwasanya selama ibu masih hidup kamu tidak akan membacanya, akan tetapi mungkin kamu akan membacanya setelah kematianku, karena kamu tahu bahwa dengan membacanya setelah kematianku tidak akan memberikan tanggung jawab apa-apa .. akan tetapi ini bukan berarti ibu tidak berangan-angan untuk melihatmu terakhir kalinya sebelum ibu mati, bukan saja karena ibu merindukanmu … akan tetapi juga karena lain-lain hal …
Diantaranya :
Pertama : ibu tidak ingin melewatkan sa’at-sa’at terakhir umur ibu sendirian, hanya ditemani oleh ketakutan-ketakutan dan pikiran-pikiran. Ibu berangan-angan seperti seorang muslim lainnya, pada sa’at-sa’at seperti itu mendapatkan orang yang menghormati ke-manusiaan-ku dan memperhatikan urusanku, mengarahkan wajahku kekiblat, dan mentalkinkanku dua kalimat syahadat serta mendo’akan rahmat untukku … apakah berlebihan apabila ibu berangan mendapatkan hak ibu yang islam sendiri telah menjaminnya untukku??
Sesungguhnya kesendirian yang ibu perhatikan pada kebanyakan wanita sepertiku mendorongku mengangankan apa yang ibu angankan …
Sesungguhnya kematian ditempat ini tidak ada harganya .. karena si sakit tidak lebih dari tempat tidur yang kosong pada hari pertama untuk diisi pada hari berikutnya oleh pesakitan lain, menanti gilirannya diatas papan penantian! Karenanya ibu tidak terlalu bersedih mendengar kematian salah seorang pasien. Kesedihanku yang paling besar adalah ketika ibu tahu bahwa dia, disa’at-sa’at kematiannya sendirian, tidak ada orang disisinya yang mentalkinkannya .. tidak ada orang yang dicintainya yang meneteskan air mata sedih karena kapergiannya .. selain dari air mata teman-teman sesama pasien yang sama-sama meniti jalan kesedihan …
Kedua : sesungguhnya ibu ingin mema’afkanmu .. dan ini tidak bisa ibu lakukan apabila kamu tidak datang kepadaku dengan air mata penyesalan diwajahmu seraya kamu berkata, “Ma’afkan saya Ibu” … tahukah kamu, kalau kamu melakukan ini ibu akan melupakan semua masa lalumu, dan ibu akan berdo’a kepada Allah agar Ia mengampuni segala kesalahanmu terhadapku. Ibu akan memohon dengan merendahkan diri kepada-Nya agar akhir hayatmu tidak seperti akhirku … akan tetapi ibu yakin bahwa kamu tidak akan melakukannya … dan kamu tidak akan datang … oleh karena itu janganlah menanti ma’af dariku wahai anakku … karena ibu, walaupun mema’afkanmu .. ibu tidak akan menjamin bahwa kamu akan selamat dari azab Allah yang tidak pernah lupa dan tidak tidur …
Ibumu yang terluka
Author: Abu Zubair Hawaary

0 komentar:

Poskan Komentar